Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, September 18, 2013

Dreams








Hold fast to dreams
For if dreams die
Life is a broken-winged bird
That cannot fly.
Hold fast to dreams
For when dreams go
Life is a barren field
Frozen with snow. 


(Dreams-Langston Hughes)

Kekuatan Jika


Jika sudah waktunya terluka, apapun yang terjadi, kita akan terluka.
juga
Jika sudah waktunya bahagia, apapun yang terjadi, kita akan bahagia.


*sedih, jika

Tuesday, December 04, 2012

Mencintai Dalam Diam




Aku mencintaimu dalam diam.
Karena hanya ada ruang hampa yang mampu
menampung tawa dan air mata milikku,
karenamu.


Aku mencintaimu dalam diam.
bahkan semua mimpiku adalah kamu.
Yang hidup tanpa kata,
tanpa suara.


Aku mencintaimu dalam diam.
Dan kediaman yang kurasakan.
Apakah itu sakit, 
apakah itu pahit,
apakah itu sulit,


tetap saja itu cinta. 
Milikmu.


Dalam diam, cinta itu bersuara.
Berkilau.



at my green room, 03 Desember 2012


Sunday, November 18, 2012

Tidak Bisa



Ada yang ingin membenciku, tapi tidak bisa

Ada yang mencoba mencintaiku, tapi tidak bisa

Ada yang belajar menjauhiku, tapi tidak bisa

Ada yang berharap mendekatiku, tapi tidak bisa


Ada apa dengan mereka? Aku tidak bisa.




Tuesday, November 06, 2012

Doa [Lagi]



Sesungguhnya diri kita adalah kumpulan doa-doa. 

Dari yang tersampaikan ataupun diam-diam. :) 



Monday, November 05, 2012

Nanti



Kamu akan melupakanku
Seperti dedaunan gugur
Dan kamu tumbuh tinggi sendiri

Ya, serupa itulah aku mengenalmu







1.30




Membunuh Rindu

Ada kerinduan yang ingin kubunuh
Lalu kukubur bersama luka darimu
Tapi setiap kali kunisani kenangan
Melati tumbuh subur mewangikan perjumpaan

Ooh Kamu
Tidak bisakah membawa racun untukku
Agar bisa kumatikan segala tentangmu





Pelangi Buta Warna



Warna warni kata berbalut makna
Janji janji basa basi
Basi rasa basi rupa
Basi hatimu karena puji




 

Aku Cemburu



Dan kuingin kau tahu
Lalu
Bisakah kau tinggalkan dia demiku
Nyatanya tidak
Kau biarkan cemburu ini menajam
Merajang rindu dan harapan





Tuesday, October 23, 2012

Pada Nama dan Dirimu



Mengapa kutemukan banyak kata setelah membaca namamu?


Mengapa kutemukan hanya satu rasa setelah membaca dirimu?



Penabung Rindu




Teman, mari berpuisi

Kamu akan mendengarkan lenguhan panjang dari perut bumi
Yang dilukai jiwanya suri. Yang melukai jiwanya mati.


(Menabung rindu pada Rabu)





Bukan Puisi yang Dipuisikan



Ada yang hilang, iya?

Iya.

Sama. :)

Kita bicara pakai bahasa apa ini?

Hahaha


(WS, 21/10/12)




Monday, October 22, 2012

Batu Keanehan



Terbuat dari gumpalan-gumpalan tanya. Yang mengeraskannya adalah waktu.


Tak lagi jadi batu,

Jika ada keberanian menjawab.

Tak lagi jadi aneh,

Jika ada keikhlasan menerima jawaban.

Takkan ada batu keanehan,

Jika kamu dan aku tak saling mengenal. Tak pernah bertemu.


Tapi,

Batu keanehan akan selalu ada. Selama kita bergantung pada waktu.


Esok,

Ketika kamu dapati batu keanehan menghilang dari sisimu. Pastikan aku menjelma kenangan. Karena harus ada yang membuka jalan, untuk ketenangan yang tak tenang.




(Untuk yang tersandung berkali-kali. Dan yang terluka banyak kali.) ^^v




Sunday, October 21, 2012

Sajak Musim Gugur



Malam-malam berguguran...
Kenangan berguguran...
Hanya sajak ini yang tumbuh


Kau selalu berdiri, ketika matahri mengoyak langit
Ketika panas, mengoyak-ngoyak hidup!


Kau pernah ajak aku berjalan
Melalui pagi dan senja, berbasah hujan
Melalui kali. Luka dan suka mengalir di sana
Tanpa jeda


Bertahan! Kau harus bertahan...
Jangan gugur sebelum musim dingin tiba
Ini kuberikan nafasku!




(Ibuk, Iwan Setyawan. Puisi Bayek untuk sang Ayah yang sedang sakit parah. Touching.)


Dalam Genggamanmu, Ibuk



Buku baru. Sepatu baru. Sekolah baru.
Untuk anak-anakmu
Agar mereka merekah


Kau bangun jembatan agar mereka tak melalui kali yang keruh
Kau gendong jiwa mereka agar selalu hangat
Kau nyalakan lentera hati mereka...


Malam minggu kemarin. Kau tak hanya berjanji.
Kau berikan nafasmu
Kau genggam anak-anakmu. Kau genggam erat.
Di tanganmu yang halus, kau pastikan
Mereka tidak terjatuh...


(Ibuk, Iwan Setyawan)



Friday, October 19, 2012

Aneh Yang Membingungkan



Gelas tanpa air
berembun hanya memburamkan gelas
Menghempaskan pecahan oksigen
tik tik tik tetesan air menyisakan bekas

Sulit tertangkap olehnya si penangkap
si penangkap seakan melihat dari dalam gelas
buram semua buram tak menentu
apakah itu benar? baik? tepat? cocok?

Hmmm... taman terlihat mekar bersama makhluknya
kupukupu berwarna warni
tak ada lensa yang tepat di sini
sekali lagi hanya buramnya gelas yang menjadi alas pandangan
tapi makhluk taman sangat menerima kehadiran si penangkap berlensa gelas

Terlihat kacau rentetan kata kata
ya ya ya, sama sekali menggambarkan aneh yang membingungkan
analogi yang buruk tak cukup menggambarkan apa yang salah
terus...?

Ketika mata bersetubuh dengan lensa teropong bintang
aturlah seluruh energi kearah niat
itu dia... jawaban atas aneh yang membingungkan...



(Karya teman sekaligus eks-sekertaris saya, Firman Butros Galih)^^v



Tuesday, October 16, 2012

Malam Ini Damai



Bunga-bunga api berterbangan,

Aku tak melihatnya,

Tapi merasakannya,

Karena panasnya dalam derajat normal-menghangatkan,

Ah, malam ini damai. 


"Senang bisa berkenalan denganmu, teman."



(To my special new friend Melati Khan Dini)



Friday, October 12, 2012

Kami Bertiga




Dalam kamar ini kami bertiga :
Aku, pisau dan kata –
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata


(Kami Bertiga,  Sapardi Djoko Damono)



Hatiku Selembar Daun




Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.


(Hatiku Selembar Daun, Sapardi Djoko Damono)



Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari



Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


(Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari, Sapardi Djoko Damono)